Jumat, 27 Februari 2015
Kamis, 04 Desember 2014
tugas kelompok
Tugas Kelompok :
1.
Megawati
2.
Nafi’ Rotus Sholikah
Exercise
Guess the
meaning of the underlined words in the text below by matching each number with
the options provided.
1.
Favourite :
Best liked (e)
2.
Figure :
Body shape (d)
3.
Excellent :
Very good (b)
4.
Youth :
Young age (f)
5.
Huge :
Extremely big in amount (c)
6.
Reached :
Arrived (a)
7.
Blessed :
Lucky/thankful (g)
8.
Properly :
Suitably (h)
Maher Zain is one of the most favorite
musicians in world. He has all the qualities needed to be loved by his fans.
Physically, he can be described as good looking man, with fair skin and ideal figure.
He has a pointed nose, big eyes, and well-shaven beard is covering his jaw.
The world knows how talented he is.
In his young age, he can be an excellent musician, singer, and
producer. His songs can entertain people and at the same time can attract or
invite them to love islam more. What a wonderful thing someone can do in his youth.
Besides his attractive physical
appearances and huge talent, Maher Zain is a man with good
personality, too. There is a story which shows how wise he is coping himself
with the life of dunya. Several years ago, he thought that his success in the
glamorous business of music industry was not ‘a dream’ for him, “I loved the music
but I hate everything that surrounded it, it always felt like something wasn’t
right. It wasn’t until he met a group of brothers who were active in the
Islamic community in Stockholm and he started regularly attending his local
mosque that he felt like he’d reached ‘home’. Maher Zain feels blessed
to able to finally find the right when and feels like it’s turn now to help
others through his music to do the same: “if I have one thing I’d like to tell
people out there it would be that it’s so easy to see the right way if we just
open our eyes and look properly; that’s what happened to me.”
Practice
Read the text
and answer the following questions.
“Kecantikan Luar dan Dalam”
Keindahan adalah karakteristik seseorang. kecantikan
luar adalah apa yang secara fisik menarik orang lain terhadap anda, tapi itu
adalah kecantikan batin yang lebih penting dan yang mendefinisikan siapa anda.
Keindahan ini tersembunyi di bawah kulit menunjuk dan dapat dilihat hanya jika
anda membuat pilihan untuk menunjukkan itu. Ada penekanan lebih untuk
kecantikan luar dan apa investasi perlu dibuat agar terlihat cantik. Ini telah
menciptakan stres antara orang-orang yang berusaha untuk terlihat cantik. Ini
tampaknya cara yang sia-sia dalam memandang kehidupan. Untuk meningkatkan kecantikan
luar banyak penekanan dibuat pada pakaian dan aksesoris yang mereka kenakan dan
tata rias wajah yang mereka gunakan, tidak melupakan semua perhatian yang
diberikan pada rambut dan tubuh. Kecantikan luar tidak membantu kepada siapa
pun kecuali digabungkan dengan kecantikan batin.
Kecantikan
batin merupakan energi yang membawa keluar kombinasi dari sifat anda. Itu tidak
nyata tapi jelas bagi reaksi dan sikap terhadap kehidupan dan cinta. Melampaui
batas menusuk ke dalam kehidupan orang lain. Itu adalah tempat di mana ada
kedamaian dalam diri Anda. Kecantikan batin adalah di mana anda dapat fokus
pada diri sendiri tanpa ego. Ketika kecantikan batin anda mengalir itu
memelihara orang lain. Memiliki dampak yang besar pada orang lain yang dapat
mengubah hidup. Apa yang akan menjadi titik keindahan jika tidak mengubah anda
atau masyarakat di mana kehidupan anda.
Merenungkan
kehidupan anda untuk melihat apa kecantikan batin yang anda miliki dan apa yang
dapat anda lakukan dengan itu. Itu bukan sesuatu yang harus diadakan dengan dan
untuk dikagumi. Itu adalah sesuatu bagi
anda untuk melakukan sesuatu. Ketika anda merenungkan diri sendiri, anda akan
menyadari karakteristik yang membentuk kecantikan batin anda. Mungkin kualitas
seperti cinta, kebaikan, kasih sayang, kelembutan, dan sensitivitas. Anda
mungkin memiliki sifat ini tetapi jika sifat ini terus dijaga tanpa memberikan
keluar, itu tidak akan membantu apapun kepada anda atau kepada orang lain. Memanfaatkan
kecantikan batin anda untuk menjadi berkat bagi orang lain. Karena anda maju di
daerah ini, anda akan menjadi orang yang lebih bahagia. Kodrat anda akan
menjadi lebih kuat. Kecantikan luar anda akan pergi sebagai usia anda, tetapi
kecantikan batin anda akan menjadi lebih kuat.
Suatu hari kami berharap bahwa penekanan tentang
memelihara dan mengembangkan kecantikan batin anda lebih dari kecantikan luar anda
akan berubah.
http://www.bizymoms.com
1.
What is mainly discussed in the passage?
a.
Inner beauty is more important than outer beauty
b.
Outer beauty is more important than inner beauty
c.
Inner and outer beauty should be balanced
d.
The importance of inner beauty
2.
The word exhibit in line 5 is closest in
meaning to the word:
a.
Show
b.
Do
c.
Realize
d.
Believe
3.
The word striving in line 7 is synonymous with
the word:
a.
Looking hard
b.
Searching hard
c.
Trying hard
d.
Wanting
4.
The qualities that reflect inner beauty are as follow,
except…
a.
Compassion
b.
Arrogance
c.
Sensitivity
d.
Tenderness
5.
The word they in line 9 refers to…
a.
Inner beauty
b.
Outer and inner beauty
c.
Clothes and accessories
d.
People who are striving to look beautiful
6.
The word tangible in line 14 means…
a.
Able to be shown or touched
b.
Able to show or touch
c.
Able to be understood
d.
Able to understand
7.
The word it in line 18 refers to…
a.
Outer beauty
b.
Inner beauty
c.
Life
d.
Ego
8.
What is incorrect about the passage?
a.
Inner beauty can bring you to a happier life
b.
Outer beauty is not complete without inner beauty
c.
People who are striving to look beautiful will always
be happy
d.
If we recognize our qualities, we can make use of it
to change our and people’s life into a better one
9.
The word realize in line 24 is closest in
meaning to…
a.
Make something come true
b.
Believe in
c.
Become aware of
d.
Think about
10. Among the good
things we can get by giving out our good qualities is…
a.
Our inner beauty will become stronger as we age
b.
Our outer beauty is not important at all anymore
c.
People will be happy to see us
d.
We can change people’s life as what we want
imam-iman dan kitabnya
Kelompok 4
A.
AL-MUWATHTHO
KARYA IMAM MALIK
Kitab
ini disusun oleh ulama besar yang hidup pada generasi tabi’ut tabi’in, bintangnya para ulama di
Madinah dan guru dari para Imam madzhab.
Belum
lengkap rasanya menelaah kitab-kitab yang menghimpun hadits Nabi Muhammad SAW
tanpa menyertakan kitab yang satu ini. Meski tak setebal kitab-kitab hadits
lainnya, kitab hadits yang disusun oleh oleh ulama besar kelahiran Madinah itu
diakui keakuratan dan bobot keilmuannya. Itulah kitab Al-Muwaththa’ karya
Al-Imam Malik bin Anas.
Demikian
hebat kitab tersebut, hingga Imam Syafi’i mengatakan, “Tidak ada kitab dalam
masalah ilmu yang lebih banyak benarnya dibandingkan dengan Muwaththa’-nya
Malik.”
Kitab
yang berisi lima ribuan hadits shahih itu disaring Imam Malik dari seratus ribu
hadits dihafalnya, yang diperoleh dari 40 tahun pencarian dan pembelajaran ke
ahli-ahli hadits terkemuka. Dalam sebuah riwayat diceritakan, khalifah kedua
Bani Abbasiyyah, Abu Ja’far Al-Manshur, meminta Imam Malik untuk menulis
hadits-hadits yang dikuasainya agar bisa menjadi rujukan.
Namun
karena Imam Malik memerlukan waktu yang cukup lama dalam menyusun kitab
perdananya itu, Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur yang keburu meninggal tidak
sempat lagi membacanya. Namun penggantinya, Harun Al-Rasyid, sangat menghormati
kitab karya Imam Malik tersebut, sampai pernah bermaksud menggantungnya di
dinding Ka’bah sebagai lambang persatuan ulama dalam hal agama.
Usai
menyusun kitab kumpulan haditsnya tersebut, Imam Malik sempat kebingungan
mencari judul yang sesuai untuk kitabnya. Sampai suatu ketika ia bermimpi
dikunjungi Rasulullah yang bersabda kepadanya, “Sebarkan kitab ini kepada
manusia.” Ketika bangun dari tidur, Imam Malik pun mantap menamakan kitabnya
dengan Al-Muwaththa’ yang artinya kitab yang disepakati atau panduan.
Kitab
Al-Muwaththa disebarkan kepada umat Islam melalui murid-muridnya, terutama
murid terakhirnya yang wafat 80 tahun setelah wafatnya Imam Malik, yakni Abu
Hudzafah Ahmad bin Isma’i1 As-Sahmi.
Jika
menilik riwayat penyusunnya, Kitab Al-Muwaththa memang sangat layak untuk
dihormati. Betapa tidak, Imam Malik, sejak masa hidupnya hingga saat ini
termasuk salah seorang ulama tak pernah berhenti disanjung karena keilmuannya .
Imam
Syafi’i, misalnya, mengomentari sang guru dengan ucapan, “Jika disebutkan
nama-nama ulama, Imam Malik adalah bintangnya.” Pendiri madzhab Syafi’iyyah itu
juga menambahkan, “ Kalau bukan karena (perantaraan) Imam Malik dan Ibnu
Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu yang ada di Hijaz.
1. Sanad Paling Shahih
Tak
heran jika seluruh penduduk Hijaz menjuluki Imam Malik dengan Sayyidu Fuqaha-il
Hijaz, penghulu para ahli fiqih Hijaz. Sementara Imam Yahya bin Sa’id
Al-Qahthan dan Yahya bin Ma’in, dua ulama besar Hijaz lainnya menjulukinya
Amirul Mu’minin Fil Hadits, pemimpin orang-orang beriman dalam bidang
hadits.”
Bahkan
Imam Al-Bukhari, muhaddits besar penyusun kitab Shahih Bukhari, mengatakan,
“Yang dikatakan ashahhul asanid, sanad hadits yang paling shahih adalah sanad
yang terdiri dari Malik, Nafi’, dan Ibnu Umar.”
Dan
jika ditelusuri lebih jauh, keunggulan ilmu Imam Malik sudah diisyaratkan sejak
masa beginda Nabi Muhammad SAW. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah
SAW bersabda, “Sungguh manusia akan menempuh perjalanan jauh untuk menuntut ilmu,
maka mereka tidak mendapati seorang alim pun yang lebih berilmu dibandingkan
dengan ulama Madinah.” (HR An-Nasa’i, Ibnu Abi Hatim dan Adz-Dzahabi).
Sufyan
bin Uyainah berkata, “Dulu aku mengira orang itu adalah Sa’id bin Musayyib,
tetapi sekarang aku yakin bahwa dia adalah Malik yang tiada bandingannya di
Madinah.”
2. Biografi Imam Malik
Imam
yang lahir di Kota Madinah pada tahun 93 H itu memiliki nama lengkap Abu
Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amr bin Al Harits Al-Ashbahi.
Abu Amir adalah warga Yaman yang berhijrah ke Madinah untuk belajar dan
mengikuti perjuangan Rasulullah SAW.
Sedangkan
kakek Imam Malik yang juga bernama Malik adalah seorang tabi’in besar yang juga
ahli fiqih kenamaan pada masanya. Ia adalah salah seorang dari empat tabi’in
yang jenazahnya dibawa sendiri oleh Khalifah Utsman.
Ibunda
Imam Malik adalah Aliyah Syuraik yang dalam sebuah riwayat diceritakan, telah
mengandung janin Imam Malik selama dua atau tiga tahun di dalam perut sebelum
melahirkannya di Kampung Zuwarmah di utara Madinah, pada zaman pemerintahan
Khalifah Al-Walid Abdul Malik.
Ketika
Malik lahir, Madinah terkenal sebagai pusat ilmu keislaman, dengan para tabi’in
sebagai guru-gurunya. Kondisi sosial yang kondusif memupuk cinta Malik kecil
terhadap ilmu al-Quran dan hadits sejak kecil. Setiap kali belajar satu hadits,
bocah yang dikenal memiliki hafalan sangat kuat itu lalu mengikat sebuah simpul
tali sebagai pengingat hadits yang dipelajarinya.
Imam
Malik bin Anas dikenal berwajah tampan, berkulit putih kemerah-merahan,
berperawakan tinggi besar, berjenggot lebat, pakaiannya selalu bersih, suka
berpakaian berwarna putih, jika memakai imamah sebagian diletakkan di bawah
dagunya dan ujungnya diuraikan di antara kedua pundaknya. Tokoh yang termasyhur
dengan kecerdasan, keshalihan, keluhuran jiwanya, dan kemuliaan akhlaqnya itu
juga gemar memakai wangi-wangian dari misik dan yang lainnya.
Imam
Malik menuntut ilmu ketika masih berusia belasan tahun. Ketika remaja, Malik
yang hidup dalam keadaan sangat miskin sering terpaksa menjual kayu dari atap
rumahnya yang runtuh untuk mendapatkan uang bekal mengaji.
Ketika berusia 17
tahun, ulama yang konon berguru kepada 900 orang ulama kalangan tabi’in itu
sudah sangat alim dalam ilmu agama. Di antara guru-gurunya adalah Imam Nafi’
bin Abi Nu’aim, Nafi’ al Muqbiri, Na’imul Majmar, Az Zuhri, Amir bin Abdullah
bin Az Zubair, Ibnul Munkadir, dan Abdullah bin Dinar.
Dan
ketika usianya menginjak 21 tahun, ia sudah dipercaya para ulama untuk
berfatwa dan membuka majelis ta’lim. Banyak ulama yang mengambil ilmu riwayat
darinya, meski saat itu usianya jauh lebih muda. Murid-muridnya antara lain
Abdullah Ibnul Mubarak, Al-Qaththan, Ibnu Mahdi, Ibnu Wahb, Ibnu Qasim,
Al-Qa’nabi, Abdullah bin Yusuf, Sa’id bin Manshur, Yahya bin Yahya Al-Andalusi,
Yahya bin Bakir, Qutaibah Abu Mush’ab, Al Auza’i, Sufyan Ats-Tsaury, Sufyan bin
Uyainah, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Abu Hudzafah As-Sahmi, dan
Az-Zubairi.
Dipercaya
menjadi seorang mufti di usia belia, tidak membuat Imam Malik lupa diri. Abu
Mush’ab menceritakan, “Aku mendengar Malik berkata, ‘Aku tidak berfatwa hingga
70 orang bersaksi bahwa aku layak berfatwa.” Dalam berfatwa pun Imam Malik
terkenal sangat berhati-hati
Walaupun
dikenal sebagai ulama terbesar pada masanya, Imam Malik juga tak luput dari
ujian. Pada masa pemerintahan Al-Manshur Imam Malik pernah dipukul dengan
cambuk sebanyak tujuh puluh kali lecutan.
Dikisahkan
ketika khalifah Al-Manshur melarang Malik menyampaikan hadits, “Tidak ada
thalaq bagi orang yang dipaksa.” Tetapi ada orang yang dengki dengannya yang
menyelundup di majelisnya yang menanyakan hadits tersebut hingga Malik
menyampaikannya di muka umum. Abu Ja’far yang murka mencambuk Imam Malik.”
Muhammad
bin Umar berkata, “Sesudah kejadian tersebut Malik semakin naik derajatnya di
mata manusia.” Adz-Dzahabi menambahkan, “Inilah buah dari ujian yang terpuji,
akan mengangkat kedudukan hamba di sisi orang-orang yang beriman.”
B. SHAHIH AL-BUKHARI KARYA IMAM AL-BUKHARI
Di
antara kitab-kitab hadis yang berkembang, kitab Shahih Imam Al-Bukhari
merupakan salah satu di antara kitab hadis yang paling populer dan mendapat
perhatian luas dari masyarakat. Di antara ulama bahkan mengatakan tidak ada
kitab yang paling sahih setelah al-Qur’an selain kitab Shahih Al-Bukhari.
Anggapan ulama bahwa kitab Shahih Imam al-Bukhari ini memiliki akurasi yang
tinggi, bukan tanpa alasan. Tetapi, memang dipahami dari metode Imam al-Bukhari
sendiri di dalam menyeleksi hadis-hadis yang beliau masukan ke dalam kitab
Shahih-nya.
Shahih
Bukhari adalah karya terbesar dan terpenting di bidang hadits. Sejak dulu
banyak ulama yang meyakini, jika kitab Shahih Bukhari dibaca secara berjamaah
akan mucul fadhilahnya, seperti untuk menangkal musibah dan memulihkan keamanan
suatu daerah.
Nama
asli Imam Bukhari adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah
Al-Ju'fi Al-Bukhari. Julukan penghormatannya Abu Abdullah. Sedangkan nama
Bukhari dinisbatkan kepada desa tempat kelahiran beliau, Bukhara. Imam Bukhari
lahir pada hari Jum'at 13 Syawal 194 H (810 M), di Bukhara, Uzbekistan.
Ayahnya, juga dikenal sebagai ulama ahli hadits yang pernah berguru kepada
beberapa tabi’in dan tabiut tabi’in, seperti Imam Malik bin Anas, dan Imam
Abdullah bin Al-Mubarak.
Ketika
usianya menginjak 10 tahun, Imam Muhammad Al-Bukhari yang mempunyai kecerdasan
dan daya ingat yang diatas rata-rata, mulai belajar dan menghafal hadits.
Merasa tak cukup dengan sekedar berguru di desanya, ia pun mulai mendatangi
tokoh-tokoh ahli hadits di sekitar desanya.
Ketika
berusia 16 tahun, nama Muhammad bin Ismail Al-Bukhari mulai dikenal di kalangan
muhaditsin sebagai pemuda yang cerdas yang telah hafal Al-Qur'an dan beberapa
kitab hadits yang ditulis Imam Abdullah bin Al-Mubarak dan Imam Waki' (guru
Imam Syafi’i), ahli hadits pada masanya.
Tahun
210 H, Muhammad Al-Bukhari diajak menunaikan ibadah haji oleh ibunya. Kali ini
ia akan mendapatkan kesempatan belajar kepada ulama yang tinggal sepanjang
jalur hajinya. Dan seperti yang telah diduga sebelumnya, ketika ibunya kembali
ke Bukhara, Muhammad Al-Bukhari memilih untuk tinggal di Mekkah. Di tanah suci
ia berguru kepada culama
ahli hadits pada masa itu, seperti Al-Walid, Al-Azraqi, dan Ismail bin Salim.
Ia juga ia mengunjungi kota Madinah, untuk menemui para anak cucu sahabat Nabi
SAW dan mendengarkan hadits dari mereka.
Setelah
dirasa cukup, Imam Muhammad Al-Bukhari pun meninggalkan Mekkah dan Madinah,
untuk memulai pengembaraan panjangnya menemui para ulama hadits di berbagai
pelosok daerah. Ia tercatat sebagai orang pertama melakukan perjalanan
terpanjang dalam mencari hadits.
Selama
pengembaraannya, Muhammad Al-Bukhari juga sempat menulis beberapa buku tentang
hadits. Di antaranya Al-Adab Al-Mufrad, Ra'fu Al-Yadain fii As-Shalah, Birru
Al-Walidain, At-Taariikh Al-Ausat, Ad-Dhuafa', Al-Asyribah, dan Al-Hibah. Namun
dari sekian banyak karyanya tersebut, Al-Jami’ush Shahih atau Shahih Bukhari
lah yang mengabadikan nama Imam Muhammad Al-Bukhari dalam khazanah keilmuan
Islam.
Setelah
mengembara selama 16 tahun, konon Imam Bukhari berhasil menghimpun sekitar
600.000 hadits, yang diperolehnya dari puluhan negeri dan ribuan guru. Setelah
diadakan penyeleksian, menurut perhitungan Ibnu Shalah dan Imam Nawawi,
terjaring 7.275 hadits yang dianggap shahih. Jumlah itu termasuk pengulangan
hadits dalam beberapa bab berbeda. Sedangkan bila tanpa pengulangan, tercatat
sekitar 4.000 hadits.
Lain
lagi menurut perhitungan Al-Imam Al-Hafidz. Jumlah hadits shahih dalam kitab
karya Al-Bukhari adalah sebanyak 7.397 hadits dengan pengulangan. Sedang bila
tanpa pengulangan sebanyak 2.602 hadits.
Kitab
Shahih Bukhari memang sangat fenomenal. Hingga saat ini kini lebih dari 100
kitab syarah (penjelasan) Shahih Bukhari telah disusun oleh para ulama. Yang
paling terkenal diantaranya adalah : Fathu Al-Baari yang disusun Imam
Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Hajar Al-'Asqalani
(wafat tahun 853 H), Irsyadu As-Saari disusun Imam Ahmad bin Muhammad Al-Mishri
Al-Qashthalani (wafat tahun 923 H), 'Umdatu Al-Qaari karya Al-'Aini (wafat 855
H) dan At-Tawsyih karya Jalaluddin As-Suyuthi.
Dalam
teknis penulisanya, Al-Bukhori membuat bab-bab sesuai dengan tema dan materi
hadits yang akan ditulisnya, setelah selesai menulis kitab shahihnya,
Al-Bukhori memperlihatkanya kepada Ahmad Ibn Hanbal, Ibn Ma’in, Ibn Al-Madani,
dan lainnya dari kalangan Ulama’-Ulama’ hadits. Mereka semuanya menilai bahwa
hadits-hadits yang terdapat didalamnya kualitasnya tidak diragukan, kecuali 4
buah hadits saja dari sekian banyak hadits yang memerlukan peninjauan ulang
untuk dikatakan sebagai hadits shohih.
Dan
diantara semua kitab syarah Shahih Bukhari yang pernah dibuat, Fathu Al-Baari
dianggap sebagai yang paling bagus, hingga digelari “Penghulu Syarah Bukhari”.
Selain syarah, ada juga beberapa kitab yang men-ta’liq (memberi
komentar/penjelasan pada bagian-bagian tertentu).
Ada
juga ulama yang meringkas kitab tersebut, yang lazim disebut mukhtashar
(ringkasan), seperti : At-Tajridu As-Shahih disusun Al-Husain bin Al- Mubarak
dan At-Tajridu As-Shahih, oleh Ahmad bin Ahmad bin Abdul Latif Asy-Syiraji
Az-Zabidi.
Seabad
setelah Shahih Bukhari tersusun, beberapa ulama hadits, seperti Al-Imam
Ad-Daraqutni dan Abu Ali Al-Ghassani mengkritik kitab tersebut. Menurut mereka
di antara ribuan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, terdapat juga seratusan
hadits yang dhaif. Tiga abad kemudian muncul lagi ulama ahli hadits yang
membela dan membantah semua kritikan ulama sebelumnya. Bahkan Ibnu Shalah
mengatakan bahwa kitab Shahih Bukhari adalah afshah al-kutub ba'da Al-Qur'an
(kitab yang paling shahih/otentik setelah Al- Qur'an).
Al
Bukhori meninggal di desa Khartand kota Samarkand pada tanggal 31 Agustus 870 M
(30 Ramadhan tahun 256 Hijriyah.) pada malam idul fitri pada usia 62 tahun
kurang 13 hari, ia dimakamkan selepas sholat dhuhur pada hari raya Idul Fitri.
C. SHAHIH MUSLIM KARYA IMAM MUSLIM
Penghimpun
dan penyusun hadits terbaik kedua setelah Imam Bukhari adl Imam Muslim. Nama
lengkapnya ialah Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz
al-Qusyairi an-Naisaburi. Ia juga mengarang kitab As-Sahih . Ia salah seorang
ulama terkemuka yg namanya tetap dikenal hingga kini. Ia dilahirkan di Naisabur
pada tahun 206 H. menurut pendapat yg sahih sebagaimana dikemukakan oleh
al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya ‘Ulama’ul-Amsar.
Ia
belajar hadits sejak masih dalam usia dini yaitu mulai tahun 218 H. Ia pergi ke
Hijaz Irak Syam Mesir dan negara-negara lainnya.
Imam
Muslim memiliki jumlah karya yang cukup penting dan banyak. Namun yang paling
utama adalah karyanya, Shahih Muslim. Dibanding kitab-kitab hadits shahih
lainnya, kitab Shahih Muslim memiliki karakteristik tersendiri, dimana Imam
Muslim banyak memberikan perhatian pada ekstraksi yang resmi. Beliau bahkan
tidak mencantumkan judul-judul setiap akhir dari satu pokok bahasan. Disamping
itu, perhatiannya lebih diarahkan pada mutaba’at dan syawahid.
Walaupun
dia memiliki nilai beda dalam metode penyusunan kitab hadits, Imam Muslim
sekali-kali tidak bermaksud mengungkap fiqih hadits, namun mengemukakan
ilmu-ilmu yang bersanad. Karena beliau meriwayatkan setiap hadits di tempat
yang paling layak dengan menghimpun jalur-jalur sanadnya di tempat tersebut.
Sementara al-Bukhari memotong-motong suatu hadits di beberapa tempat dan pada
setiap tempat beliau sebutkan lagi sanadnya. Sebagai murid yang shalih, beliau
sangat menghormati gurunya itu, sehingga beliau menghindari orang-orang yang
berselisih pendapat dengan al-Bukhari.
Dalam
lawatannya Imam Muslim banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan utk berguru
hadits kepada mereka. Di Khurasan ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak
bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Di
Irak ia belajar hadits kepada Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Maslamah; di
Hijaz belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’Abuzar; di Mesir berguru
kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya dan kepada ulama ahli hadits yang
lain.
Muslim
berkali-kali mengunjungi Baghdad utk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits dan
kunjungannya yang terakhir pada 259 H. di waktu Imam Bukhari datang ke Naisabur
Muslim sering datang kepadanya untuk berguru sebab ia mengetahui jasa dan
ilmunya. Dan ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az-Zihli
ia bergabung kepada Bukhari sehingga hal ini menjadi sebab terputusnya hubungan
dengan Az-Zihli.
Muslim
dalam Sahihnya maupun dalam kitab lainnya tidak memasukkan hadits-hadits yang
diterima dari Az-Zihli padahal ia adalah gurunya. Hal serupa ia lakukan
terhadap Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadits dalam Sahihnya yang diterimanya
dari Bukhari padahal iapun sebagai gurunya. Nampaknya pada hemat Muslim yang
lebih baik adalah tidak memasukkan ke dalam Sahihnya hadits-hadits yang
diterima dari kedua gurunya itu dengan tetap mengakui mereka sebagai guru.
D. SUNAN ABU DAUD KARYA
IMAM ABU DAUD
Di
antara kitab-kitab kumpulan hadits, inilah kitab yang susunannya bercorak fiqih
yang penyusunannya sangat sistematis.
Jika
kita mengagumi kitab kumpulan hadits karya Imam At-Tirmidzi dan Imam An-Nasa’i,
maka kita harus terlebih dulu mengagumi kitab kumpulan hadits karya guru mereka
yang juga berjudul As-Sunan. Kitab yang juga banyak bercorak fiqih itu ditulis
muhadits dan faqih besar pada masanya yaitu Al-Imam Sulaiman bin Imran bin
Al-Asy`ats bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amr bin Imron Al-Azdy
As-Sajistani atau biasa disebut Imam Abu Dawud.
Kitab
As-Sunan tersebut memuat 4800 hadits yang disaring dari 50.000an hadits. Dan
50.000 hadits itu sendiri merupakan saringan dari ratusan ribu hadits yang
diperolehnya saat berkelanan. Kumpulan hadits berjumlah 4800 itulah yang lalu
ditulis pada kitab As-Sunan.
Di antara kitab-kitab
kumpulan hadits, kitab sunan karya Abu Dawud termasuk yang paling banyak
menarik perhatian, karena merupakan salah satu kompilasi hadits hukum yang
paling lengkap.
Tentang
kualitas kitab tersebut Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah mengomentari, “Kitab Sunan
Abu Dawud adalah kitab yang dengan topiknya Allah telah mengkhususkan kedudukan
penulisnya. Dalam banyak pembahasan yang bisa menjadi hukum, hendaklah para
mushannif (pengarang kitab) mengambil hukum dari kitab itu dan kepada itu pula
hendaknya para muhaqqiq (pencari kebenaran) merasa ridha. Sesungguhnya Abu
Dawud telah mengumpulkan sejumlah hadits ahkam (hukum) dan menyusun serta
mengaturnya dengan sebaik-baiknya. Dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi ia
membuang sejumlah hadits dari para perawi yang majruh (mempunyai cela) dan
dhu'afa (memiliki kelemahan).”
Demikian
besar keutamaan kitab Sunan Abu Dawud, hingga ketika usai disusun, Ibrahim
al-Harbi, seorang ulama ahli hadits pada masa itu mengomentari, “Hadits telah
dilunakkan bagi Abu Dawud, sebagaimana besi dilunakkan untuk Nabi Dawud.”
Ungkapan yang menunjukan keistimewaan seorang ahli hadits itu dimaksudkan, Imam
Abu Dawud telah menyederhanakan persoalan hadits yang rumit, mendekatkan yang
jauh dan memudahkan yang sukar.
Selain
ahli hadits, Imam Abu Dawud juga menonjol sebagai seorang faqih, ahli fiqih.
Kefaqihan dan keahliannya dalam ilmu hadits tampak berpadu ketika Imam Abu
Dawud mengritik sejumlah hadits yang bertalian dengan hukum fiqih dan dalam
penjelasan bab-bab fiqih pada kitab-kitab haditsnya. Kedalaman ilmu Abu Dawud
tersebut –meski luar biasa-- cukup dimaklumi mengingat beliau murid kesayangan
Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali.
Jumlah
hadits dalam Sunan Abu Dawud adalah sebanyak 4800 hadits, sebagian ulama
menghitungnya sebanyak 5.2.74 hadits. Perbedaan ini dikarenakan sebagian orang
menghitung hadits yang diulang sebagai satu hadits dan sebagian lagi
menghitungnya sebagai dua hadits. Abu Dawud membagi Sunannya dalam beberapa
kitab dan tiap kitab dibagi menjadi beberapa bab. Jumlah kitab sebanyak 35 buah
diantaranya ada 3 kitab yang tidak dibagi dalam bab-bab. Sedangkan jumlah
babnya ada 1.871 bab.
Koleksi
hadis Sunan Abu Dawud telah memikat ulama generasi berikutnya untuk mengulas
(mensyarahi) kandungannya dan tak kurang dari 13 kitab yang ditulis oleh ulama
dengan latar belakang madzhab fiqh yang berbeda, antara lain :
Ma’alim
As-Sunan, oleh Al-Khathabi (wafat 388 H); Syarah As-Sunan, oleh Ar-Ramli (wafat
844 H); Syarah As-Sunan, oleh Quthbuddin as-Syafi’i (wafat 652 H) yang naskah
aslinya belum pernah digandakan; Aunu Al-Ma’bud, oleh Syamsu al-Haqq al-Adhim
Abadi, dinilai sebagai kitab syarah terpadat dan berwawasan luas; Al-Minhal al-’Azbu
al-Maurud, oleh syeikh Mahmud al-Subki (wafat 1352 H) mencapai 10 jilid format
besar dan dilanjutkan oleh putera beliau syeikh Amin Mahmud al-Subki sehingga
selesai menjadi 14 jilid.
Perihal
jumlah guru hadits Imam Abu Dawud, ulama ahli hadits berbeda pendapat. Abu Ali
Al-Ghosaany, misalnya, menyebutkan nama-nama guru Abu Dawud yang mencapai 300
orang. Sementara Imam Al-Mizzy menyebutkan jumlah 177 nama guru sang Imam dalam
kitabnya, Tahdzibul Kamal.
Jumlah
yang sama banyak juga tercatat dalam daftar ulama yang pernah menjadi muridnya.
Yang paling terkenal tentu saja Imam Abu Isa At-Tirmidzi dan Imam An-Nasa`i,
penyusun dua kitab Sunan yang juga termasuk dalam kutubus sittah. Selain mereka
tersebut juga nama Abu Bakr bin Abi Daud, Abu Thoyib Ahmad bin Ibrahim
Al-Baghdadi, Abu Amr Ahmad bin Ali Al-Bashri, Ali bin Hasan Al-Anshari,
Muhammad bin Bakr At-Tammaar, dan Abu Ali Muhammad bin Ahmad Al-Lu’lu’i, yang
tidak lain adalah perawi kitab Sunan Abu Dawud.
Senin, 24 November 2014
kunjungan di candi pawon
sabtu, 23 november 2014
kunjungan saya ke magelang berlanjut di sebuah candi pawon yang berada di komplek desa wisata dekat dengan kompleks candi borobudur. banyak wisatawan luar yang berkunjung kesana. itu merupakan kunjungan saya yang kesekian kalinya di kota magelang.
ini merupakan bagian depan dari candi pawon. lingkungan candi pawon. di lingkungan candi pawon terlihat bersih dan rapi.
ketika anda lagi berlibur ke magelang khususnya di komplek candi borobudur, jangan lupa singgah di candi pawon yang tidak kalah menarik dengan candi borobudur.
Rabu, 04 Juni 2014
dinasti-dinasti islam di Anatolia dan Turki
MAKALAH
DINASTI-DINASTI ISLAM DI ANATOLIA DAN TURKI
(TURKI SALJUQ, DANISYMANDIYYAH, DAN QARAMANIYYAH )
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Sejarah Islam Periode Klasik II
Dosen pengampu: Dra. Ummi Kulsum, M.Hum.

Disusun oleh:
1.
Irfan Khanifudin (13120056)
2.
Nafi’ Rotus Sholikah (13120068)
3.
M. Ferry Hasnum (13120105)
PROGRAM STUDI SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bangsa Turki mempunyai peran yang sangat penting dalam
perkembangan kebudayaan Islam. Peran yang paling menonjol terlihat dalam
politik ketika mereka masuk dalam barisan tentara Bani Abbasiyah. Kemudian
mereka membangun kekuasaan yang independen tetapi masih tetap loyal kepada
khalifah Bani Abbasiyah. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya Dinasti Seljuq,
Danisymendiyyah, dan Qaramaniyyah. Oleh karena itu, makalah ini membahas dinasti-dinasti tersebut dengan
tujuan menambah wawasan tentang dinasti-dinasti kecil di Anatolia dan Turki.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana latar belakang munculnya, perkembangan, dan keruntuhan Dinasti
Seljuq Rum?
2.
Bagaimana latar belakang munculnya, perkembangan, dan keruntuhan Dinasti
Danisymendiyyah?
3.
Bagaimana latar belakang munculnya, perkembangan, dan keruntuhan Dinasti
Qaramaniyyah?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Seljuq Rum(470-707 H/1077-1307 M)
1.
Berdirinya
Muncul pada tahun 1075 M di Rum (Asia Kecil), pendirinya
Abu Fawaris Sulaiman ibn Qutlumisy ibn Israel ibn Seljuq. Ia adalah seorang penguasa
dan hakim di Mosul, Diarbakr dan Irak. Kemunculan Sulaiman pertama kali
dimasyarakat terjadi pada saat pertempuran Atsiz, seorang beg dari suku Turki
Yavkiyya. Tetapi, ia gagal memenangkan pertempuran tersebut. Meskipun gagal ia
akhirnya masuk wilayah Anatolia dan menaklukkan Aleppo dan Antioch, kemudian
Konya dari penguasa Yunani. Kemudian menaklukkan Isnik (nikaea) dan menjadikan
kota itu sebagai ibukota pada tahun 467 H/1075M. [1]
2.
Perkembangannya
Pada saat terjadi konflik antara pemimpin agama dan Imperium
Romawi, Sulaiman memanfaatkan hal itu untuk memperkokoh dan memperlebar daerah
kekuasaannya. Ia melakukan konspirasi politik dengan Nichephorus III untuk
menduduki tahta Romawi dan memperluas daerah kekuasaannya sampai kota Uskundar,
selanjutnya dengan bantuan Nichephorus Melissenos ia menaklukkan Phrygia dan
Anatolia Barat.
Pada tahun 475-476 H Sulaiman mengerahkan kekuatan
militernya untuk memerdekakan Armenia dan dapat menguasai Cilicea. Akan tetapi,
ia harus berhadapan dengan Tutusy, saudara Malik Syah dan mengakibatkan ia
terbunuh pada tahun 479 H/1086 M. setelah kematian Sulaiman terjadi kekosongan
kepemimpinan di Isnik. Pada tahun 1092 M putra Sulaiman Kilij Arselan pergi ke
Isnik untuk menggantikan ayahnya yang telah mangkat. Ia merekonstrusi kerajaan,
membangun kembali ibukota, dan menunjuk gubernur serta komandan militer yang
baru.
Pada tahun 1097 M terjadi pertempuran antara tentara
Seljuq dengan tentara Salib, yang dimenangkan oleh tentara Salib. Hal ini
mengakibatkan kota Isnik jatuh ketangan tentara Salib kemudian Kilij dan
keluarganya pindah ke Konstantinopel. Bulan berikutnya, terjadi peperangan
kembali antara kedua belah pihak dan dimenangkan lagi oleh tentara Salib
walaupun Kilij dibantu oleh beberapa pihak. Untuk menghindari musnahnya
kekuatan militernya, Kilij terpaksa mundur. Pada tahun 1100 M Kilij dan Ahmad
Ghazi menghadang pasukan Salib yang berangkat dari Syiria, serta mengalahkannya
di Malatia, sekaligus menahan pemimpin mereka. Kemenangan tersebut
membangkitkan moral Bangsa Seljuq. Kemudian, Kilij memindahkan ibukotanya di
Konya. Kilij menjalin hubungan dengan kaisar Byzantium untuk saling membantu
melawan tentara Salib. Pada saat penaklukkan kota Mosul, terjadi perlawanan
dengan kerajaan Seljuq Raya di sungai Khabur yang mengakibatkan Kilij Arselan
terbunuh pada saat pertempuran tersebut pada tahun 1107 M.
Sebagai ayahnya Kilij
Arselan I meninggalkan tahta di Konya tanpa pengganti karena anak tertuanya
menjadi tawanan di Isfahan. Kemudian muncul interfensi dari penguasa kerjaan
Danimandiyyah, Mas’ut kemudian dibantu Emir Ghazi ibn Gumusytakim ke istana
Seljuq, dan akhirnya Seljuq Rum berada dibawah kekuasaan Danismandiyyah. Dua
kemenangan diperoleh Sultan Mas’ud dari tangan Byzantium dan tentara Salib,
menjadikan ia sebagai penguasa Negara Islam yang paling kuat pada masanya.
Setelah kematian Mas’ud, anaknya yang
bernama Kilij Arselan II menggantikannya sebagai penguasa Seljuq pada tahun 551
H/1155 M. Ia menghadapi dari pihak Byzantium, akhirnya meletus pertempuran
hebat di Myrioke. Peperangan itu dimenangkan oleh Kilij Arselan II dan
menjadikan Anatolia sebagai tanah Bangsa Turki. Setelah itu kekuasaan dibagi
menjadi sebelas bagian oleh Kilij Arselan II yang dibagikan kepada
anak-anaknya. Pada masa tuanya Kilij Arselan II turun tahta dan justru menjadi
saksi persaingan politik yang dilakukan oleh anak-anaknya sampai dia wafat pada
tahun 588 H/1192 M. Turki Seljuq di Anatolia mencapai masa kejayaannya pada
pemerintahan Ala’ al-Din Kay Qubad I ia membangun tembok besar untuk melindungi
kota Konya, Kaiseri, dan Siva dari serangan bangsa Mongol, membangun armada
laut, membangun industri kapal, masjid, madrasah, jembatan, dan rumah sakit.[2]
3.
Kemajuan-kemajuan yang dicapai
Masa kejayaannya terlihat pada pemerintahan Ala’ al-Din Kay Qubad I,
diantaranya:
a.
Ia membangun tembok besar untuk melindungi kota Konya, Kaiseri, dan Siva
dari serangan bangsa Mongol,
b.
membangun armada laut,
c.
membangun industri kapal, masjid, madrasah, jembatan, dan rumah
sakit.
4.
Keruntuhannya
Awal keruntuhan Seljuq Rum di Anatolia adalah wafatnya
al-Din Kay Qubad I yang terlalu dini, ia meninggal tanpa pengganti yang kuat
karena anaknya yang bernama ‘Izz al-Din Kay-Kaus II naik tahta itu merupakan
awal dari krisis politik di Anatolia. Kemudian gagal memadamkan pemberontakan Baba
Ishaq itu mengisyaratkan rapuhnya kekuatan politik Seljuq Rum. Invasi bangsa
Mongol ke kota Erzurun dan Anatolia. Dinasti Seljuq Rum berakhir pada tahun 708
H/1308 M. Administrasi pemerintahan diambil alih oleh gubernur, jenderal Mongol,
para pegawai pemerintah, tentara Seljuk dibubarkan, beban pajak yang tinggi
kepada masyarakat Turki, kemiskinan mulai tampak di Anatolia, dan penguasa
Seljuq saat itu dijadikan boneka oleh bangsa Mongol di Anatolia.[3]
5.
Faktor-faktor Kejayaan
a.
Sultan Killij Arselan I yang menjalin kerjasama dengan kaisar Bizantium.
b.
Memenangkan perang salib
c.
Meraih kembali kekuasaan dari Dinasti Danisymandiyyah
d.
Killij Arselan II yang melanjutkan kebijakan ayahnya yaitu dengan
menciptakan kesatuan politik dan pembangunan ekonomi, serta budaya
e.
Ala’ al-Din Kay Qubad I yang membangun tembok besar untuk melindungi
dari serangan mongol
f.
Kerjasama antara pihak Seljuq dengan Khawarizm untuk membendung serangan
Mongol.
6.
Faktor-faktor Keruntuhan
a.
Faktor yang paling penting yang menyebabkan awal keruntuhan Turki Seljuq
adalah wafatnya ‘Ala’ al-Din Kay-Qubad yang terlalu dini dan tanpa pengganti
yang kuat,
b.
Pengganti Kay-Qubad yang mempunyai pribadi yang lemah
c.
Sultan Seljuq yang gagal memadamkan pemberontakan Baba Ishaq
d.
Invasi bangsa Mongol ke kota Erzurun dan Anatolia
B.
Danisymandiyyah(464-573 H/sekitar 1071-1177 M)
1.
Berdirinya
Awal mulanya pusat kekuasaan dinasti Turkoman ini
adalah di Anatolia Utara sekitar Tokat, Amasya, dan Sivas. Pendirinya Danisyimend,
ia datang di Anatolia sebagai seorang ghazi selama terjadi kekacauan setelah
meninggalnya Sulaiman ibn Qutlumisy dari Seljuq. Tak lama kemudian, Danisymend
tampaknya berselisih dengan pasukan Salib pertama. Danisymend merupakan pusat
dari sebuah tradisi ledenga yang epik, yang selama hampir dua abad tertulis,
dalam epik ini ia berhubungan dengan prajurit tapal batas Muslim pertama.
Sayyid Baththal, dalam menerangkan asal-usul Danisymandiyyah sulitlah untuk
melepaskan fakta dan fiksi.[4]
2.
Perkembangannya
Pada awal abad ke-XII, Amir Ghazi Gumisytigin ikut
campur dalam perselisihan dikalangan Seljuq Rum, berperang melawan orang-orang
Armenia di Sisilia dan orang-orang Frank di Edessa, serta pada tahun 521 H/1127
M merebut Kayseri dan Ankara, karena dia berperang melawan orang-orang Kristen,
khalifah Al Mustarsyid memberi gelar Danisymandiyyah gelar Malik (Raja).[5]
3.
Kemajuan-kemajuan yang dicapai
a.
Diantara Malik ada yang Mampu berperan dalam Suksesi pemerintahan Seljuq
Rum
b.
Amir Ghazi mampu merebut Kayseri dan Ankara
c.
Dinasti yang berhubungan dengan prajurit tapal batas Muslim pertama.
4.
Keruntuhannya
Ketika Malik Muhammad meninggal pada tahun 536 H/1142 M
timbul perselisihan dikalangan putra-putra dan saudaranya, Yaghi-basan
menyatakan dirinya sebagai Amir di Sivas, saudaranya ‘Aynuddin menggantikan di
Elbistan dan Malatya, serta Dzun Nun menguasai Kayseri. Untuk beberapa lama
terdapat persaingan dalam
Danisymandiyyah. Namun sepeninggalan
Yaghi-basan, Kilij Arselan II dari Seljuq beberapa kali ikut campur dalam
persaingan perebutan sivas yang akhirnya membunuh Dzun Nun pada tahun 570 H/1174
M dan menguasai wilayahnya. Sedangkan di Malatya terjadi perselisihan
dikalangan ketiga putra Dzu al-Qarnayn dan penguasa terakhir disini, Nashir
al-Din Muhammad memerintah sebagai raja bawahan Kilij Arselan II sampai ia
mengambil alih Malatya sampai tahun 573 H/1178 M. menurut Ibn Bibi, keluarga
Danisymandiyyah yang masih bertahan bekerja pada Seljuq.[6]
5.
Faktor-faktor Kejayaan
a.
Amir Ghazi yang berani melawan pihak Kristen
b.
Diantara Malik ada yang Mampu berperan dalam Suksesi pemerintahan Seljuq
Rum
6.
Faktor-faktor Keruntuhan
a.
Malik Muhammad meninggal, kemudian menyebabkan terjadinya perebutan
kekuasaan dikalangan saudara dan putera-puteranya.
b.
Kekuasaan terbagi menjadi tiga cabang
c.
Ikut campurnya Kilij Arselan II dalam perebutan kekuasaan dinasti
Danisymandiyyah
C.
Qaramaniyyah (Sekitar 654-888 H/sekitar 1256-1483 M)
1.
Berdirinya
Orang-orang
Qaramaniyyah berasal dari suku Turkmen yang bernama Afsyar dan ayah Qaraman,
Nura adalah seorang syekh sufi terkenal, yaitu sama-sama keturunan Darwisy.
Pada mulanya, mereka berpusat di Ermenek di gunung Taurus bagian barat laut
dimana mereka menjadi raja bawahan Sultan Seljuq di Konya, Rukn al-Din Kilij
Arselan IV.[7]
2.
Perkembangannya
Pada masa
ini mereka tidak bisa hidup tenang bersama orang Mongol dan Mamluk, yang
kesultanannya pernah mereka akui, tetapi pada abad ke-XIV mereka mendirikan Negara
merdeka, yang mengendalikan hampir semua Anatolia tengah dan selatan. Ibukota
mereka adalah Laranda, yang menjadi pusat penting aktivitas seni dan budaya.
Qaramaniyyah menggalakkan penggunaan bahasa Turki sebagai bahasa administrasi
menggantikan bahasa Persi.[8]
3.
Kemajuan-kemajuan yang dicapai
a.
Mampu mengendalikan hampir semua Anatolia tengah dan selatan,
b.
Ibukota mereka, yaitu Karaman atau Nalanda menjadi pusat penting
aktivitas seni dan budaya,
c.
Menggalakkan bahasa Turki sebagai bahasa dalam pemerintahan menggantikan
bahasa Persia.
4.
Keruntuhannya
Mereka berselisih dengan Usmaniyah yang semakin luas
kekuasaannya, dan pada tahun 792 H/1390 M al-Din Khalil ditindukkan oleh
Bayazid di Aq Chay, dan wilayah kekuasaan Qaramaniyyah pun dianeksasi. Tetapi
setelah kekalahan Bayazid di Ankara pada tahun 805 H/1402 M, timur memulihkan kesultanan banyak
Anatolia yang telah dianeksasi oleh Usmaniyah, termasuk kesultanan
Qaramaniyyah. Perselisihan dengan Usmaniyyah terus berlanjut, karena setelah
direbutnya Isfendiyar Oghullari dari Sinope dan Kastamonu pada tahun 866 H/
1462 M, mereka adalah saingan berat terakhir para Sultan. Qaramaniyyah pun
berhubungan dengan kekuatan-kekuatan di Laut Tengah yang menentang
ekspansionisme Usmaniyyah. Venice dan Paus berupaya bersekutu dengan sultan
Qaraman, dan begitu pula dengan tetangga-tetangga mereka di timur, Aq Qayunlu
Uzun Hasan dan Qasim, Qaramani terakhir, mendukung Jem, seorang Usmani yang
menuntut kedudukan yang menuntut alas an yang sah. Tetapi perselisihan internal
mengenai suksesi memudahkan intervensi Usmaniyyah, dan dinasti ini tak lama
kemudian runtuh.[9]
5.
Faktor-faktor Kejayaan
a.
Kemenangan dengan pihak Usmaniyyah,
b.
Menjalin hubungan dengan kekuatan-kekuatan Mediterania yang menentang
ekspansionisme Ustmaniyyah,
6.
Faktor-faktor Keruntuhan
a.
Adanya perselisihan internal mengenai suksesi pemerintahan,
b.
Intervensi pihak Ustmaniyyah
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Munculnya dinasti Islam di wilayah Anatolia
dan Turki tak lepas dari peran bangsa Turki sebagai barisan militer yang loyal
dari khalifah-khalifah Bani Abbasiyyah kira-kira abad ke-IX masehi. Kemudian
mereka membangun kekuasaan sendiri secara independen tapi masih di bawah
kekuasaan Abbasiyyah, yaitu Saljuq, Danisymandiyyah, dan Qaramaniyyah.
Dinasti-dinasti ini sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial politik di
wilayah Turki. Namun, pada saat ditinggal mati pemimpin yang paling berpengaruh
para penggantinya sering berselisih dan mengakibatkan kekuasaan mereka
terpecah-belah. Semenjak kehadiran bangsa Mongol di Turki, terjadi banyak
pemberontakan dan invasi yang mengakibatkan dinasti tersebut runtuh. Demikian
sedikit pembahasan tentang dinasti-dinasti di wilayah Anatolia dan Turki.
DAFTAR PUSTAKA
A.Mughni, Syafiq. Sejarah Kebudayaan
Islam di Turki. Cet 1.Jakarta:Logos,1997.
Bosworth, G.E.Dinasti-Dinasti Islam.Bandung:Mizan,1993.
Langganan:
Postingan (Atom)


